Monday, December 3, 2007

Faktor Kemenangan “Sayang”


Pilkada SULSEL
Sumber: Fajar, 12 November 2007
15/11/2007 16:37

MESKI agak mulur sekitar dua jam dari waktu yang dijanjikan, akhirnya pukul 17.00 Wita, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengumumkan hasil quick count-nya yang mengunggulkan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang.Pasangan yang akrab disingkat Sayang ini, memperoleh 40.72 persen, sedang Amin-Mansyur (Asmara) meraih 37.13 persen, disusul Aziz-Mubyl 22.15 persen.

Tentu ada pihak merasa kurang sreg dengan data yang ditampilkan LSI itu. Tetapi lembaga yang dipimpin Denny JA ini sudah banyak kali melakukan perhitungan sejenis dalam berbagai pilkada, baik pada pilkada bupati/walikota maupun pada pilkada gubernur, termasuk pemilu untuk legislatif dan pemilu presiden.

Hasilnya sangat akurat. Bahkan hanya berbeda antara 0,6 sampai 1,0 persen dengan hasil perhitungan yang dibuat oleh KPU. Ketidakenakan pihak tertentu atas data QC bisa disebabkan dua hal. Pertama, pihak yang kontra benar-benar tidak mengetahui metode quick count. Kedua, bisa juga mereka sudah tahu, tetapi tidak mau menerima kenyataan jika data QC diumumkan.

Jelasnya, LSI yang punya reputasi di bidang political research tidak mau kehilangan nama hanya karena kepentingan satu orang dari 31 gubernur, sekitar 400 bupati/walikota, anggota DPR/DPD dan pemilu Presiden di Indonesia yang berpotensi sebagai pasarnya. Para calon gubernur dan bupati/walikota sudah antre untuk memesan jasa survei LSI.

Untuk kasus Sulawesi Selatan, perusahaan ini telah menyebar dan membayar ratusan relawan dua bulan sebelumnya (setelah ada penetapan TPS) untuk mengetes penetapan sampel yang digunakan. Oleh sebab itu, jika tabulasi yang dibuat oleh KPU, Golkar dan PKS mampu merontokkan reputasi data LSI, maka benar-benar akan menjadi bencana lembaga ini dari kasus pilkada Sulawesi Selatan.


Keinginan Amin Syam untuk berpasangan dengan Mansyur Ramli sudah kelihatan sejak pemilihan gubernur tahun 2002 ketika sistem perwakilan DPRD masih berlaku. Karena itu, tampilnya Syahrul Yasin Limpo sebagai wakil gubernur tampaknya tidak penuh restu dari Amin Syam. Pihak pengamat senantiasa bertanya-tanya faktor ketertarikan Amin pada Mansyur, apa karena pengaruh JK atau karena Mansyur bergelar profesor dan bisa berkhotbah akan melengkapi kepemimpinan Amin yang militer madani dengan nuansa akademis dan relegius yang dimiliki Prof Dr Mansyur Ramly, MS yang ketika itu menjabat sebagai Rektor UMI.

Keputusan untuk berduet dengan Mansyur Ramly, mungkin saja bisa menciderai pihak tertentu di Unhas. Kenapa Amin tidak mencari dan menggandeng Unhas yang banyak memiliki guru besar dan doktor yang berpotensi sebagai menteri atau pejabat eselon satu.

Keengganan Amin kepada Unhas selama ini dapat dipahami (anekdot di lapangan golf; Unhas itu cocoknya pelat merah DD 1), karena Unhas memiliki banyak cadangan SDM potensial yang selalu diperhitungkan. Misalnya ketika Palaguna, ada Basri Hasanuddin yang diembus sebagai calon gubernur (terakhir menjadi Menko Kesra dan Dubes RI di Iran), dan ketika Amin ingin maju jadi Gubernur Sulsel 2002, ada Rady A Gani yang harus diperhitungkan tingkat kemampuan dan kecerdasannya (diangkat Penasihat Kepresidenan).

Oleh sebab itu, ketika Amin memutuskan untuk berduet dengan Prof Mansyur Ramly, tokoh-tokoh Unhas dapat dipahami (tentu banyak faktor lain, termasuk kaderisasi) jika umumnya memberi dukungan kepada Sayang, misalnya Basri Hasanuddin, Rady A Gani, Ahmad Amiruddin, Yunus Alkatiri, Saleh Pallu, Ambo Tuwo, Nurul Ilmi, Jeanny M Fatima, Ilmar, Maria Pandu dan juga penulis analisis ini. Sementara Syahrul dan Agus yang memrepresentasikan diri sebagai alumni Unhas mampu menggalang dan memelihara hubungan itu dengan baik.


Tampil dengan kampanye “Cerdas, Muda dan Sehat” menjadi slogan yang diidolakan oleh orang-orang muda di daerah ini. Pilihan tema ini tidak saja dilandasi pandangan teoritis bahwa populasi orang muda selamanya lebih besar daripada orangtua, karena itu merebut pemuda-pemudi adalah awal kemenangan. Kandidat muda dan cerdas, juga menjadi tumpuan harapan agar bisa lebih energik dan kreatif, sehingga dari dia diharapkan tumbuh ide-ide yang brilian dan inovatif untuk melakukan perubahan.

Selain itu slogan ini secara terselubung dinilai provokatif yang menyerang lawan beratnya --Amin yang selama ini dipersonifikasi sakit-sakitan, meski tim kampanye Amin cukup gencar melawan isu ini dengan berbagai foto aktivitas olahraga Amin. Di sini tim kampanye Asmara terseret dan kehabisan waktu hanya untuk menangkis serangan itu.

Ibaratnya sebuah pertarungan boxing di mana tim Sayang tampil dengan lincah dan memukau dengan jab-jab yang memancing masuk lalu menjepit, serta mengelak pada saat tim Asmara menyerang. Tim Asmara ikut larut mengikuti pola permainan tim Sayang, pada saat mana Sayang memanfatkan injure time untuk melakukan door to door (teori; komunikasi interpersonal lebih berpotensi mengubah perilaku daripada media massa) dan promosi doktor, sehingga Syahrul kembali memetik satu poin pada saat kampanye sudah ditutup.

Kesalahan lainnya adalah pernyataan pasangan Amin yang terpancing dengan slogan “cerdas” akhirnya menjadi blunder, dan menimbulkan ketidakenakan di kalangan akademisi di daerah ini, dan sekaligus menjadi penilaian tersendiri bagi Asmara. Dan konon pernyataan itu melorotkan simpati kalangan orangtua, sesepuh dan para cerdik pandai.

Kelebihan lain Syahrul adalah memanfaatkan kelemahan saingannya dengan kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga selalu tampil menunjukkan kematangan dan kearifan dengan penuh rasa hormat kepada orangtua, seniornya, guru-gurunya dan sahabat-sahabatnya, telah mendatangkan daya simpati tersendiri. Ketika Tim Asmara akan menggunakan pesawat heli, dengan rendah hati Syahrul mengatakan akan memakai kendaraan rakyat.

Dalam hubungannya dengan JK, Syahrul mampu memilihara jarak yang baik sehingga tidak pernah merasa jauh, sekalipun tim Asmara percaya diri dan memrepresentasikan JK memberi dukungan penuh kepadanya karena Golkar. Syahrul mampu mencitrakan JK sebagai tokoh yang netral, rational, dan memberi dukungan kepada semua kandidat, sekalipun ada pernyataan tokoh Golkar mengancam dengan pernyataan “Tidak Ada Hati Nurani”.

Tampil dengan wajah dalam foto agak keras dengan kumis menantang (masih bisa dibikin lebih kalem), tapi diimbangi wajah yang sejuk dari Agus Arifin Nu’mang, akhirnya pasangan ini mampu menarik simpati. Dengan slogan-slogan yang populis “Bantuka Boss” dan “Don’t Look Back” yang terpasang di mana-mana, dipresentasikan sebagai milik anak muda, meski hanya tampil dua halaman suplemen Harian Fajar dibanding dengan Amin yang tampil empat halaman.

Selain itu, mobilitas yang tinggi dengan melakukan perjalanan trip ke daerah-daerah (Gaya Bill Clinton just to say Hallo), serta jaringan (networking) dengan teman-teman kuliahnya dulu yang kini banyak menjadi birokrat pemerintahan di daerah ini, sangat membantu melalui ikatan emosional. Syahrul juga mampu mempresentasikan diri sebagai pemimpin dari semua golongan, yang tidak fanatik dan ekstrem, serta selalu menyampaikan bahwa dalam dirinya mengalir darah perpaduan dua etnis, yakni Bugis (Ajatappareng) dan Makassar (Gowa-Takalar), sehingga pada tempat-tempat yang didiami kelompok minoritas maupun daerah-daerah yang berada dalam pengaruhnya, Sayang mendulang suara yang sangat signifikan.

Akankah janji untuk mencoblos nomor tertentu tidak bisa dibuktikan, dan berubah ketika masuk bilik suara. Lagu “Jangan ada dusta di antara kita” sebaiknya diubah liriknya menjadi ”Jangan ada dendam di antara kita”. Itulah seni politik, dan itu juga fenomenal bagi orang-orang yang menggunakan akal sehatnya (cerdas) untuk memilih dengan hati nurani. Selamat buat Bung Syahrul, Gubernur Sulawesi Selatan terpilih.

1 comment:

lyli said...

Bravo SAYANG...!!!
Semua strateginya itu sudah diatur sedemikian rupa sejak dulu...Bpk SYL memiliki karakter yang konsisten, penyabar dan setia kawan...Itulah yang membuatnya memiliki network yang luas...